Cerita ini dapat dari teman
yang ngeshare di grup WA, dan iis bagi di sini karena inspiratif banget, jadi
keinget ma diri sendiri berasa banget sedang ngalamin hal seperti ini, Allah,
Allah, Allah, Alhamdulillah...lakukan yang terbaik, berikan yang terbaik,
ikhlaskan semuanya, lillahi ta'ala karena Mu ya Rabb dan hanya padaMu ya
Rabb...
Menjadi pengingat juga untuk semangat, semangat jualan, akan
selalu ada jalan, aamiin...
PENJUAL TEMPE
Di sebuah desa hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak ada
pekerjaan lain yg dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski dmkn,
nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang.
"Jika tempe ini yg nanti mengantarku ke surga, kenapa aku
harus menyesalinya...?", demikian dia selalu memaknai hidupnya.
Suatu pagi, setelah shalat subuh, dia pun berkemas. Mengambil
keranjang bambu tempat tempe. Dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe2 yg dia
letakkan di atas meja panjang.
Tapiii..., deg! dadanya gemuruh.Tempe yg akan dia jual, ternyata
belum jadi. Masih berupa kacang kedelai, sebagian berderai, belum disatukan
ikatan2 putih kapas dari peragian.
Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi.
Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan
mendapatkan uang, utk makan, dan modal membeli kacang kedelai, yg akan dia olah
kembali menjadi tempe.
Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tau.., jika
meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yg mustahil. Maka, di tengadahkan
kepala, dia angkat tangan, dia berdoa...
"Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti
menyayangi hamba-Mu yg hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini
menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku...".
Dalam hati.., dia yaqin.., Allah akan mengabulkan doanya.
Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia
rasakan hangat yg menjalari daun itu. Proses peragian memang masih
berlangsung...
Dadanya bergemuruh...
Pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan... dia kecewa. Tempe
itu masih blm juga berubah. Kacang kedelainya blm semua menyatu oleh kapas2
ragi putih. Tapi, dg memaksa senyum, dia berdiri.
Dia yakin.., Allah pasti sedang "memproses" doanya.
Dan tempe itu pasti akan jadi.
Dia yakin..., Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yg setia
beribadah.
Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dlm keranjang,
dia berdoa lagi..
"Ya Allah, aku tau tak pernah ada yg mustahil bagi-Mu. Engkau
Maha Tahu, bahwa tak ada yg bisa aku lakukan selain berjualan tempe... Karena
itu ya Allah, jadikanlah...! Bantulah aku, kabulkan doaku...".
Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi
daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya.
Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan... belum jadi.
Kacang kedelai itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa
pun atas ragian kacang kedelai tsb.
"Keajaiban Tuhan akan datang... pasti..!", yakin-nya.
Dia pun berjalan ke pasar...
Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin..., "tangan"
Tuhan tengah bekerja utk mematangkan proses peragian atas tempe2nya. Berkali2
dia memanjatkan doa... berkali2 dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan
doanya.
Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan
keranjang2 itu...
"Pasti sekarang telah jadi tempe..", batinnya.
Dg berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan2. Dan...
dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika
pertama kali dia buka di dapur tadi.
Air mata pun menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak
dikabulkan...?
Kenapa tempe ini tidak jadi...?
Apakah Tuhan ingin aku menderita...?
Apa salahku...?
Demikian batinnya berkecamuk.
Dengan lemas, dia gelar tempe2 setengah jadi itu di atas plastik
yg telah dia sediakan.
Tangannya lemas..., tidak akan ada yg mau membeli tempenya itu.
Dan dia tiba2 merasa lapar... merasa sendirian...
"Tuhan telah meninggalkan aku..", batinnya.
Airmatanya mulai mengalir... Terbayang esok dia tak dapat
berjualan... esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar,
orang yang lalu lalang, dan "teman2nya" sesama penjual tempe di sisi
kanan dagangannya yg mulai berkemas. Dianggukinya mereka yg pamit, karena
tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia
mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia
merasa cobaan itu terasa berat...
Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya Dia
memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paruh baya, tengah tersenyum,
memandangnya...,
"Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yg setengah jadi...? Capek
saya sejak pagi mencari2 di pasar ini, tak ada yg menjualnya. Ibu
punya..?"
Penjual tempe itu bengong... Terkesima. Tiba2 wajahnya pucat.
Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan.
"Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan
engkau kabulkan doaku yg tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan
jadikan tempe.."
Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia
letakkan lagi. "jangan2, sekarang sudah jadi tempe...??"
"Bagaimana Bu...? Apa ibu menjual tempe setengah
jadi..?", tanya perempuan itu lagi.
Kepanikan melandanya lagi... "Duh Gusti... bagaimana ini...?
Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya..?", ucapnya berkali2. Dan dg
gemetar, dia buka pelan2 daun pembungkus tempe itu.
Ternyata... Di balik daun yg hangat itu, dia lihat tempe yg masih
sama. Belum jadi..!.
"Alhamdulillah!", pekiknya, tanpa sadar. Segera dia
angsurkan tempe itu kepada si pembeli.
Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu.
"Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yg belum jadi...?"
"Oohh..., bukan begitu, Bu. Anak saya yg kuliah S2 di Seoul
Korea Selatan, ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa
sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yg belum jadi. Jadi, saat saya
bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu...?"
***
Saudaraku tercinta..
Dalam kehidupan sehari2, kita acap berdoa, dan
"memaksakan" Allah memberikan apa yg menurut kita paling cocok utk
kita.
Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa
kecewa dan merasa ditinggalkan... Padahal Allah paling tau apa yg paling cocok
untuk kita.
Bahwa semua rencana-Nya adalah SEMPURNA.. .
Tempe setengah jadi tsb tdk akan pernah dlm waktu singkat menjadi
tempe, karena itu melawan takdir kauniyah yg telah Allah tetapkan.
Takdir kauniyah ini atau takdir kausalitas (sunnatullah) itu akan
berjalan seperti biasanya...
Itulah hukum-Nya yg berlaku di alam semesta.
Seperti air akan mengalir dari tempat yg tinggi ke tempat yg
rendah..
Namun kita berharap dg takdir ghaibiyyah yg Allah tetapkan,
seperti pertolongan yg Allah berikan dari arah yang tdk pernah kita duga..
Contoh lain takdir ghaibiyah ini adalah kita tdk tau akan dimana
dan kapan kita meninggal..., karena itu rahasia-Nya. Namun, Dia telah
menetapkan takdir syar'iat bagi manusia bahwa orang2 yg beriman dan mengerjakan
amal2 kebaikan diberikan tempat kembali yg terbaik.
Allah swt seringkali mengingatkan di dalam Alquran bahwa boleh
jadi kita sangat menginginkan sesuatu, padahal itu tdk baik bagi kita...
Dan boleh jadi kita sangat tidak menyukai sesuatu, padahal itu
banyak menyimpan kebaikan bagi kita.. (QS. Al Baqarah: 216).
Sejatinya.., tugas kita sebagai manusia sederhana saja, yaitu
berusaha semaksimal mungkin, seikhlas mungkin, dan hasil akhir adalah ketentuan
Allah SWT, Sang Penguasa Alam Semesta ini.
"Allah tdk akan membebani manusia melebihi
kemampuannya."(QS.Al-Baqarah: 286)
"Barangsiapa yg menjaga ketaqwaannya kpd Allah, pasti Allah
berikan solusi dan rizki dari arah yg tidak pernah dia duga." (QS.
Ath-Thalaq: 2-3).
***