Jumat, 17 Mei 2019

Pantaskah Kita Cemberut

Pantaskah Kita Cemberut 


Dialah..

Allah yang menurunkan air dari langit yang penuh rahmat dan berkah.. 

yaitu HUJAN.



Saat kita dikasih hujan yang penuh rahmat dan berkah, namun wajah kita cemberut..

Itulah manusia selalu egois..



Apakah karena mobilnya baru dicuci lalu kita cemberut..

Apakah karena kita mau ke Mall lalu kita cemberut..

Apakah karena kita ada janji sama Bos lalu kita cemberut.. atau

Apakah karena kita mau ke Majelis Ta'lim lalu kita cemberut..

Itulah manusia selalu tidak adil hanya karena urusan yang seperti itu..



Coba kita lihat di sana yang sedang membutuhkan air karena kekeringan, gundulnya hutan, apakah kita masih cemberut bila melihat ke sana.. 

bersyukurlah saudaraku.



Karena apabila yang kita jadikan rujukan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbicara tentang hujan, maka kita sedang berbicara tentang rahmat. Allah Ta'ala berfirman:



وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْراً بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ … (الفرقان: ٤٨)



“Dia lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan);..” 

(QS. Al-Furqan [25]: 48)



Sungguh hujan sebagai kebesaran Allah, jatuh dengan butiran" air yang bening dan halus. Coba apakah anda masih cemberut bila hujan itu jatuh seperti air bah, ukurannya sebesar batu gunung..



PASTI KITA TIDAK AKAN CEMBERUT LAGI, MELAINKAN KETAKUTAN DAN BERLINDUNG DI TEMPAT AMAN.



MASIH PANTASKAH CEMBERUT?



Jazakumullahu khairan

- Via, Ummu Nabila




🌐 Sumber : salamdakwah.com


☕ Silahkan disebarkan, mudah2an anda mendapatkan bagian dari pahalanya ☕
Barakallah fikum.

                                                                                                                                                                                                         
✒ Dikutip dari kajian ilmiah bersama : 

Ustadz  Maududi Abdullah, Lc, hafizhahullah

Acara di gambar diambil pada saat hari H sehari sebelumnya hujan super deras mengguyur Stadion Kanjuruhan Kepanjen, sampe sore dan alhamdulillah malam hari nya terang, kalau diingat ingat ni baru masang jam 1 malam karena barang nya baru datang dari Bandung juga malam, yang seharusnya barang datang pagi hari, tetapi semuanya sudah qodarulloh nya Allah, kereta yang membawa barang tersebut harus putar arah karena ada yang anjlok di daerah Jawa Barat, sehingga malam baru bisa nyampe nya. Dari semua kejadian Allah sudah mengatur semuanya dan ada hikmah dibalik semuanya yang manusia tidak pernah mengetahuinya. MasyaAllah



Kamis, 10 Januari 2019

REZEKI ITU PUNYA ALAMAT

REZEKI ITU PUNYA ALAMAT

Kalau rezeki itu diukur dari kerja keras, maka kuli bang
unan lah yang akan cepat kaya.

Jika rezeki itu ditentukan dari waktu kerja, maka warung kopi 24 jam lah yang akan lebih mendapatkanya, bahkan mungkin mampu mengalahkah KFC dan Mc. DONALD.

Jika rezeki itu milik orang pintar, maka dosen yang bergelar panjang yang akan lebih kaya.

Jika rezeki itu karena jabatan, maka presiden dan rajalah orang yang akan menduduki 100 orang terkaya di dunia.

Rezeki itu karena kasih sayang Allah Ta'ala.

"Mengejar rezeki, jangan mengejar jumlahnya, tetapi berkahnya."
( Ali bin Abi Thalib )

MESKIPUN LARI, REZEKIMU AKAN TETAP MENGEJARMU

“Kalaulah anak Adam lari dari rezeki nya (untuk menjalankan perintah Allah Ta'ala) sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezeki nya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.” (HR. Ibnu Hibban, no.1084)

Miskin kaya sudah ada yang mengaturnya.

ABDURRAHMAN BIN AUF SELALU GAGAL JADI ORANG MISKIN

Jika tiba-tiba kondisi ekonomi "down", maka kita akan terhibur mengingat kisah bisnis Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu, tentang investasinya membeli kurma busuk.

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, " Abdurrahman bin Auf  akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya. Ini karena orang yang paling kaya akan dihisab paling lama."

Maka mendengar ini, Abdul Rahman bin Auf radhiyallahu 'anhu pun berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk surga lebih awal.

Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan shahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh.

Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi dengan harga kurma bagus.

Semuanya bersyukur, Alhamdulillah..., kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf. Sahabat gembira.
Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu pun juga gembira.

Sahabat lain gembira sebab semua dagangannya laku.
Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu gembira juga, sebab berharap
jatuh miskin!

Masya Allah, hebat.

Coba kalau kita? Usaha diuji dikit, udah teriak tak tentu arah.

Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu merasa sangat lega, sebab tahu akan bakal masuk surga dulu, sebab sudah miskin.

Namun, Masya Allah
Rencana Allah Subhanahu wa Ta'ala itu memang terbaik.

Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk.

Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang cocok adalah KURMA BUSUK !

Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Subhanallah...
Orang lain berusaha keras jadi kaya. Sebaliknya, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu berusaha keras jadi miskin tapi selalu gagal. Benarlah firman Allah Ta'ala : "Wahai manusia, di langit ada rezeki bagi kalian. Juga semua karunia yang dijanjikan pada kalian." (QS. Adz-Dzariyat : 22)

Jadi, yang banyak memberi rezeki itu datangnya dari kurma yang bagus atau kurma yang busuk?

Allah Subhanahu wa Ta'ala lah yang Memberi rezeki.

Semoga kisah ini dapat menyuntik kembali semangat dalam diri kita semua, yang sedang diuji dalam pekerjaan dan usaha kita, UNTUK LEBIH MENGUTAMAKAN URUSAN KEPADA ALLAH dibanding urusan dunia yang sementara ini.

آمِــــــــــيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِــــــــــيْنَ

Senin, 03 September 2018

MAKNA SEBUAH PEKERJAAN

Makna Sebuah Pekerjaan

Seorang eksekutif muda sedang beristirahat siang di sebuah kafe terbuka. Sambil sibuk mengetik di laptopnya, saat itu seorang gadis kecil yang membawa beberapa tangkai bunga menghampirinya.

”Om beli bunga Om.”

”Tidak Dik, saya tidak butuh,” ujar eksekutif muda itu tetap sibuk dengan laptopnya.

”Satu saja Om, kan bunganya bisa untuk kekasih atau istri Om,” rayu si gadis kecil.

Setengah kesal dengan nada tinggi karena merasa terganggu keasikannya si pemuda berkata, ”Adik kecil tidak melihat Om sedang sibuk? Kapan-kapan ya kalo Om butuh Om akan beli bunga dari kamu.”

Mendengar ucapan si pemuda, gadis kecil itu pun kemudian beralih ke orang-orang yang lalu lalang di sekitar kafe itu. Setelah menyelesaikan istirahat siangnya,si pemuda segera beranjak dari kafe itu. Saat berjalan keluar ia berjumpa lagi dengan si gadis kecil penjual bunga yang kembali mendekatinya. ”Sudah selesai kerja Om, sekarang beli bunga ini dong Om, murah kok satu tangkai saja.”

Bercampur antara jengkel dan kasihan sipemuda mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya. “Ini uang 2000 rupiah buat kamu. Om tidak mau bunganya, anggap saja ini sedekah untuk kamu,” ujar si pemuda sambil mengangsurkan uangnya kepada si gadis kecil.

Uang itu diambilnya, tetapi bukan untuk disimpan, melainkan ia berikan kepada pengemis tua yang kebetulan lewat di sekitar sana. Pemuda itu keheranan dan sedikit tersinggung.

”Kenapa uang tadi tidak kamu ambil, malah kamu berikan kepada pengemis?”

Dengan keluguannya si gadis kecil menjawab, ”Maaf Om, saya sudah berjanji dengan ibu saya bahwa saya harus menjual bunga-bunga ini dan bukan mendapatkan uang dari meminta-minta.

Ibu saya selalu berpesan walaupun tidak punya uang kita tidak bolah menjadi pengemis.”

Pemuda itu tertegun, betapa ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak kecil bahwa kerja adalah sebuah kehormatan, meski hasil tidak seberapa tetapi keringat yang menetes dari hasil kerja keras adalah sebuah kebanggaan. Si pemuda itu pun akhirnya mengeluarkan dompetnya dan membeli semua bunga-bunga itu, bukan karena kasihan, tapi karena semangat kerja dan keyakinan si anak kecil yang memberinya pelajaran berharga hari itu.


 Tidak jarang kita menghargai pekerjaan sebatas pada uangatau upah yang diterima. Kerja akan bernilai lebih jika itu menjadi kebanggaan bagi kita. Sekecil apapun peran dalam sebuah pekerjaan, jika kita kerjakan dengan sungguh-sungguh akan memberi nilai kepada manusia itu sendiri. Dengan begitu, setiap tetes keringat yang mengucur akan menjadi sebuah kehormatan yang pantas kita perjuangkan.

 Sebarkan kisah ini agar dapat menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitar kita

Jumat, 27 Juli 2018

TENTANG REZEKI

DARI WA GRUP :

"Penghasilan bapak berkurang ga sejak ada gocar atw grab belakangan ini?" Tanya sy ke si supir taxi bluebird.
Di luar dugaan, beliau menjawab, "Nggak ah, sama aja bu. Dan rejeki mah tergantung Allah. Kan 3 Hal yg udah dijamin Allah tuh.. jodoh, rejeki, mati" 

Wah, menarik nih, pikir sy.
Padahal jelas2 mmg eksistensi taxi resmi banyak tergerus dgn adanya mobil online spt gocar dan grab. Sampe pernah kan para driver taxi resmi berdemo. Tapi kok si bapak ini santai aja, ga merasa rejekinya terenggut mrk? 

"Kan gak semua orang mau nunggu demi dapet harga murah bu. Kalo pake taxi kan lebih cepat, tinggal tunjuk. Ga usah nunggu 20menit spt naik gocar atw grab. Tinggal pinter2nya kita aja. Datengin tempat yg rame, jangan kebanyakan tidur atau istirahat di jalan. Tapi kerja, Cari tempat2 rame. Pasti dapet ko"

Tapi bukan itu rahasia dia sbnrnya.
Rahasia kenapa dia bisa mendapat penghasilan lumayan dari taxi adalah...

"Semua itu tergantung perasaan kita bu.
Kalo Kita kerja dgn ikhlas, bener2 diniatin cari rejeki buat anak istri, pasti ada aja bu rejekinya. Pasti.
Kalo perasaan sy ikhlas, happy, itu 800-900 dapetlah. Minim-minimnya 500.
Lah tapi kalo perasaan sy lagi ga enak, atw lagi kesel, ya boro-boro 500. Dapet 250aja udah bagus" kata si bapak.

"Penting bgt bu jaga perasaan positif. Jangan kesel, walau diomelin penumpang sekalipun. Jangan ngeluh, jangan ngedumel. Ntr itu rejeki pasti ngikutin apa kata kita"

"Misalnya nih bu, dapet penumpang yg jaraknya deket. Itu kan biasanya supir taxi ngedumel dalam hati ya. Kalo say mah nggak. Mau cuma 10rb, 15rb, hayuk.. sy jalanin dgn ikhlas bu. Ga ngedumel sy, walau cm dalam hati"

Lalu si bapak cerita pengalamannya yg menakjubkan ttg penumpang berjarak dekat.

"Pernah suatu ketika bu, sy ngantre nyari penumpang di Central Park. Pas akhirnya dapet penumpang, tau ga mnta dianter kemana? ke Taman Anggrek, bu. Lah itu kan deket bgt, jalan kaki jg bisa. Bayangin bu, udah ngantri giliran 2 jam,pas dapet penumpang, tnyata cuma mau ke mall yg jaraknya sekilo. Hahahaha.."

"Tapi sy tetep ikhlas, rejeki mah Allah yg ngatur. Ga mau ngedumel. Dan tau ga app yg terjadi, bu?
Pas turun, si penumpang tanya, 'lho kok ga gerak argonya Pak? Cuma 6500?' sy jawab, 'iya Pak, krn jaraknya ga nyampe sekilo'. Akhirnya si penumpang nanya kembalian 20rb ke sy. Sy pikir dia mau kasih duit 50rb,kembalian 20rb.
Ternyata bu... Dia ngasih duit 100ribu!!
Pdhl argonya cuma 6500! Allahu Akbar.."
Kata si bapak.

"Ya begitulah bu. Kalo hati Kita ikhlas, pasti Allah ngasih deh. Itu mah sy percaya bgt. Makanya sy mah ga pernah ngeluh dpt penumpang berjarak deket"

Lalu dia melanjutkan ceritanya.
Setelah mengantar penumpang pertama tadi, dia balij lagi ke Central Park, ngantri lagi. Ndilalah.. penumpang ke 2 minta diantar lagi ke tempat yg sama spt penumpang pertama: Taman Anggrek lagi!
Dan ndilalah, si penumpang kedua ini jg lagi-lagi bayar taxi jauuh di atas Argo. Argo 6500, dia bayar 50rb. 

Dua Kali ketiban rejeki, si bapak balik lagi ke Central Park, ngantri lagi di sana. Pas dapet penumpang ke 3, tujuannya sama lagi: Taman Anggrek lagi. Kali ini si penumpang bayar 30rb. Alhamdulillah, lumayan. Si bapak pun balik lagi ke Central Park utk ke 4 kali.

Pas dapet penumpang ke 4, baru dapet tujuan yg jauh: Narogong Bekasi. Si penumpang adlh orang Jepang yg sdg berkegiatan di kawasan industri di Bekasi. Pas sampai di tujuan, si org Jepang in minta pak driver utk menunggu 3jam. Lalu dia mnta antar lagi ke Tangerang. Total Argo selama antar dan menunggu itu adlh 900ribu. Sangat sangat lumayan sebenarnya. Tapi masih ada kejutan lagi: si orang Jepang bukan membayar 900rb sesuai Argo, tapi bayar 1,2juta!
300ribu tips buat beliau, sambil berpesan: ini buat anak istri di rmh ya. Kamu pulang sdh malam.

"MasyaAllah buu.. sy bersyukur bgt hari itu."

Setelah itu ia pun berniat pulang dari Tangerang ke Parung. Eh ndilalah, di jalan dia dapet penumpang lagi, dgn tujuan yg searah dgn jalan pulangnya: Ciputat.
Jadi dia nganter, sekalian pulang juga. Dan lagi2, si penumpang in ngasih tips besar lagi ke dia. MasyaAllah​...

"Itu satu hari yg gak akan sy lupakan bu. Rejeki datang bertubi-tubi. Beneran deh, kerja itu hrs ikhlas. Jangan pernah ngedumel. Pasti rejeki itu terbuka. Yakin saya."

"Pokoknya bu, kalo sekali kita udah ngedumel, ngeluh, pasti deh.. setelah itu rejeki jd seret. Penumpang dikit. Apalagi klo sampe kita ngomelin penumpang. Waduh..  udah deh. Bisa nutup setoran aja udh bagus itu mah. Susah bu!"

Inspiratif Pak!

Sy jadi inget ajaran film "The Secret" dulu:

"Perasaan positif menarik kejadian positif, 
Perasaan negatif menarik kejadian negatif"
"Stay positive, even in the darkest situation ever"
"Be a grateful person. And always be like that"
"Gratitude. Gratitude. Gratitude. That is the key to solve your problems"

"Tetaplah positif, bahkan dalam situasi paling gelap sekalipun "
"Jadilah orang bersyukur Dan selalu seperti itu"
"Syukurlah, syukur, syukur, itulah kunci untuk memecahkan masalahmu"

Atau kalau dlm Islam, Ini persis isi Surat Ibrahim ayat 7:
"Jika kamu BERSYUKUR, maka pasti akan Kami TAMBAH nikmatmu. Tapi kalau kamu ingkar, sungguh siksa Kami sangatlah keras"

Ayat yg simpel ini mengandung makna yg sangat dalam sbnrnya. Yaitu:
"BERSYUKURLAH wahai manusia, seberat apapun masalah yg menimpamu. Jangan mengeluh. Jangan ngedumel. Tapi ingat2lah nikmat Allah lainnya. Kalau kamu bisa bersyukur dlm kondisi sulit, maka lihatlah.. pertolongan Allah pasti akan datang. Allah pasti akan tambah nikmat2 itu. Tapi kalau kamu terus menerus mengeluh.. ya silakan merasa tersiksa dengan pikiran negatifmu, sampai akhir hayatmu.
JANGAN HARAP ALLAH MAU MENOLONGMU"

Ya kira2 begitulah

#repost 
Uci - Pusat

Jumat, 31 Maret 2017

CERITA PENJUAL TEMPE

Cerita ini dapat dari teman yang ngeshare di grup WA, dan iis bagi di sini karena inspiratif banget, jadi keinget ma diri sendiri berasa banget sedang ngalamin hal seperti ini, Allah, Allah, Allah, Alhamdulillah...lakukan yang terbaik, berikan yang terbaik, ikhlaskan semuanya, lillahi ta'ala karena Mu ya Rabb dan hanya padaMu ya Rabb...

Menjadi pengingat juga untuk semangat, semangat jualan, akan selalu ada jalan, aamiin...

PENJUAL TEMPE

Di sebuah desa hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yg dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski dmkn, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang.
"Jika tempe ini yg nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya...?", demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah shalat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe. Dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe2 yg dia letakkan di atas meja panjang.
Tapiii..., deg! dadanya gemuruh.Tempe yg akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang kedelai, sebagian berderai, belum disatukan ikatan2 putih kapas dari peragian.
Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi.

Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, utk makan, dan modal membeli kacang kedelai, yg akan dia olah kembali menjadi tempe.
Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tau.., jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yg mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia berdoa...

"Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yg hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku...".
Dalam hati.., dia yaqin.., Allah akan mengabulkan doanya.

Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yg menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung...

Dadanya bergemuruh...
Pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan... dia kecewa. Tempe itu masih blm juga berubah. Kacang kedelainya blm semua menyatu oleh kapas2 ragi putih. Tapi, dg memaksa senyum, dia berdiri.
Dia yakin.., Allah pasti sedang "memproses" doanya.
Dan tempe itu pasti akan jadi.

Dia yakin..., Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yg setia beribadah.

Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dlm keranjang, dia berdoa lagi..

"Ya Allah, aku tau tak pernah ada yg mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yg bisa aku lakukan selain berjualan tempe... Karena itu ya Allah, jadikanlah...! Bantulah aku, kabulkan doaku...".

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya.
Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan... belum jadi.
Kacang kedelai itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang kedelai tsb.
"Keajaiban Tuhan akan datang... pasti..!", yakin-nya.
Dia pun berjalan ke pasar...
Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin..., "tangan" Tuhan tengah bekerja utk mematangkan proses peragian atas tempe2nya. Berkali2 dia memanjatkan doa... berkali2 dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.

Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang2 itu...
"Pasti sekarang telah jadi tempe..", batinnya.
Dg berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan2. Dan... dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.

Air mata pun menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan...?
Kenapa tempe ini tidak jadi...?
Apakah Tuhan ingin aku menderita...?
Apa salahku...?
Demikian batinnya berkecamuk.

Dengan lemas, dia gelar tempe2 setengah jadi itu di atas plastik yg telah dia sediakan.
Tangannya lemas..., tidak akan ada yg mau membeli tempenya itu.
Dan dia tiba2 merasa lapar... merasa sendirian...
"Tuhan telah meninggalkan aku..", batinnya.

Airmatanya mulai mengalir... Terbayang esok dia tak dapat berjualan... esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan "teman2nya" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yg mulai berkemas. Dianggukinya mereka yg pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat...
Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paruh baya, tengah tersenyum, memandangnya...,
"Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yg setengah jadi...? Capek saya sejak pagi mencari2 di pasar ini, tak ada yg menjualnya. Ibu punya..?"

Penjual tempe itu bengong... Terkesima. Tiba2 wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan.
"Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yg tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe.."
Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. "jangan2, sekarang sudah jadi tempe...??"

"Bagaimana Bu...? Apa ibu menjual tempe setengah jadi..?", tanya perempuan itu lagi.

Kepanikan melandanya lagi... "Duh Gusti... bagaimana ini...? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya..?", ucapnya berkali2. Dan dg gemetar, dia buka pelan2 daun pembungkus tempe itu.

Ternyata... Di balik daun yg hangat itu, dia lihat tempe yg masih sama. Belum jadi..!.
"Alhamdulillah!", pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.

Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yg belum jadi...?"

"Oohh..., bukan begitu, Bu. Anak saya yg kuliah S2 di Seoul Korea Selatan, ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yg belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu...?"

***

Saudaraku tercinta..

Dalam kehidupan sehari2, kita acap berdoa, dan "memaksakan" Allah memberikan apa yg menurut kita paling cocok utk kita.
Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa dan merasa ditinggalkan... Padahal Allah paling tau apa yg paling cocok untuk kita.

Bahwa semua rencana-Nya adalah SEMPURNA.. .
Tempe setengah jadi tsb tdk akan pernah dlm waktu singkat menjadi tempe, karena itu melawan takdir kauniyah yg telah Allah tetapkan.
Takdir kauniyah ini atau takdir kausalitas (sunnatullah) itu akan berjalan seperti biasanya...
Itulah hukum-Nya yg berlaku di alam semesta.
Seperti air akan mengalir dari tempat yg tinggi ke tempat yg rendah..
Namun kita berharap dg takdir ghaibiyyah  yg Allah tetapkan, seperti pertolongan yg Allah berikan dari arah yang tdk pernah kita duga..
Contoh lain takdir ghaibiyah ini adalah kita tdk tau akan dimana dan kapan kita meninggal..., karena itu rahasia-Nya. Namun, Dia telah menetapkan takdir syar'iat bagi manusia bahwa orang2 yg beriman dan mengerjakan amal2 kebaikan diberikan tempat kembali yg terbaik.

Allah swt seringkali mengingatkan di dalam Alquran bahwa boleh jadi kita sangat menginginkan sesuatu, padahal itu tdk baik bagi kita...
Dan boleh jadi kita sangat tidak menyukai sesuatu, padahal itu banyak menyimpan kebaikan bagi kita.. (QS. Al Baqarah: 216).

Sejatinya.., tugas kita sebagai manusia sederhana saja, yaitu berusaha semaksimal mungkin, seikhlas mungkin, dan hasil akhir adalah ketentuan Allah SWT, Sang Penguasa Alam Semesta ini.

"Allah tdk akan membebani manusia melebihi kemampuannya."(QS.Al-Baqarah: 286)

"Barangsiapa yg menjaga ketaqwaannya kpd Allah, pasti Allah berikan solusi dan rizki dari arah yg tidak pernah dia duga." (QS. Ath-Thalaq: 2-3).
***


Kamis, 27 Oktober 2016

GEBYAR HARI SANTRI 22 OKTOBER 2016

Hotel Mercure Ancol, Jakarta 13 Oktober 2016
LED 3x8M 1set tengah sebagai backdrop
LED 3x4M 2set kanan kiri panggung
Video Shooting 2 kamera dan JimmyJib 1unit

GEBYAR HARI SANTRI 22 OKTOBER 2016






Hari Santri Nasional sudah ditetapkan oleh pemerintah melalui Keppres nomor 22 tahun 2015.


Mengapa tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional ?
hal tersebut merujuk pada peristiwa bersejarah yang membawa bangsa Indonesia meraih kemerdekaan dari para penjajah.
Resolusi jihad yang dicetuskan oleh Pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 oktober tahun 1945 di Surabaya untuk mencegah kembalinya tentara kolonial belanda yang mengatasnamakan NICA.
KH. Hasyim Asy’ari sebagai ulama pendiri NU menyerukan jihad dengan mengatakan bahwa Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap individu.
Seruan Jihad yang dikobarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari itu membakar semangat para santri Arek-arek Surabaya untuk menyerang markas Brigade 49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby.
Jenderal Mallaby pun tewas dalam pertempuran yang berlangsung 3 hari berturut-turut tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945, ia tewas bersama dengan lebih dari 2000 pasukan inggris yang tewas saat itu.
Hal tersebut membuat marah angkatan perang Inggris, hingga berujung pada peristiwa 10 November 1945, yang tanggal tersebut diperingati sebagai hari Pahlawan.
Kemerdekaan indonesia memang tidak lepas dari para santri dan ulama, karena memang tak hanya tentara yang berperang melawan penjajah, tercatat banyak ulama dan santri yang ikut berperang untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia.
Itulah mengapa tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Pantaskah Kita Cemberut

Pantaskah Kita Cemberut   Dialah.. Allah yang menurunkan air dari langit yang penuh rahmat dan berkah..  yaitu HUJAN. Saat kita d...